Selasa, 29 Maret 2011

Andai Aku Menjadi....

Andai aku menjadi..
suatu acara reality show di trans tv yang hari ini bikin saya kepengen banget ikutan jadi talent di acara tersebut! Bukan karena saya pengen masuk tv aja loh, tp motif pertama saya adalah krn ingin mengurangi pola komsumtif dalam hidup saya. Bingung?

Saya gemar belanja, terutama pakaian. Tp mungkin sebagian teman saya tidak tau kebiasaan saya yang bisa dibilang tidak baik apalagi kalau pengeluaran lebih besar dari pemasukan... Saya memang sudah lama doyan belanja, apalagi sejak bertambah maraknya online shop! Saya belanja tdk hanya di online shop, tp di mol jg dgn teman saya malah kdg sendiri. Tdk dengan mama saya, karena pastinya saya akan mendengar ceramah berdurasi 10 menit!! Upsss...

Sejak kuliah, hobi belanja saya makin sulit dikendalikan! Karena mata ini memang tdk akan pernah puas utk melihat. Semakin banyak pakaian yg "wah" di mata saya, tp uangnya tdk ada hahaha. Saya memang sudah bekerja, tp honor saya di pekerjaan mengajar dpt dikatakan sangat kurang untuk memenuhi "hobi belanja" saya....

Teman, mungkin banyak yang bingung bila saya mengatakan doyan belanja tp jarang melihat saya berganti-ganti pakaian sebanyak "org yang dapat dikatakan doyan belanja". saya memang banyak membeli pakaian, tp byk jg di antaranya yang "gagal beli" krn ternyata tdk cocok dgn kepribadian saya. akhirnya baju-baju itu hanya memenuhi lemari dan diberikan ke orang lain.... Huah... Banyak di antaranya saya beli dgn harga cukup tinggi tetapi kualitas kaki lima! Menyesal saya kenapa tdk membeli sekalian yg bermerek di toko2 seperti Gaudi, Avenue, Mineola, Orange utk baju dgn kelas yg saya beli di online shop. Pelajaran: Tdk semua brg di online shop, sebaik yg anda lihat di gambar!*

Krn hal ini lah mendorong saya bukan hanya ingin ikutan acara "Andai Aku Menjadi" di trans tv dan hidup susah selama 3-4 hari melainkan saya jg ingin mengubah karakter saya. Saya ingin belajar lebih sederhana, tetapi selama ini sangat sulit jika saya tdk terjun langsung ke tempat di mana saya dapat lebih mensyukuri hidup dan tdk terlalu khawatir terhadap pakaian yang saya kenakan. Saya ingin belajar dari kekurangan dan menabung utk masa depan saya dan keluarga nantinya. saya tidak mau jika sudah menikah, anak-anak saya terutama jika wanita akan menjadi seperti saya! (Tidak terlalu masalah kalau uangnya ada, tetapi kalau tidak bagaimana?) Lagipula saya tdk menginginkan anak saya "doyan belanja". Lebih baik jika "doyan baca" hahaha...






Jumat, 04 Februari 2011

Jawabannya adalah DOA.


Hmm.. sejak sore td gw mikir.. mikir dan terus mikir. Entah sampe kpn hal yg gue pikirin itu ketemu jawabannya..

Hal yg gue pikirin memang ga byk dibanding ortu gue, tapi hal2 itu udah bikin gue ngejelimet n emosi (negatif) tingkat tinggi.. pengennya marah, melototin orang, ngomel2 n ngelampiasin ini semua sampeeeee.... sampeee gue cape n lemes kali ya.

Selalu terjadi dinamika, kendala atau bahagia. yg skrg lg gue alamin pastinya kendala. gue paling ogah nih kalo berurusan sama namanya dana. perlu gue garis miring krn ini masalah pokok blakangan ini... gue suka duit, tp kalo nyarinya haduh bisa kelabakan gue! tp nih ya, di bagian paling ga gue suka ini, gue malah sering terlibat. Dan di tempat gue sering terlibat ituuu, byk bgt kendalanya. Dari ga dpt sponsor, dagangan kaga abis, sampe badan jd remuk krn keliling2 nyari pembeli, terakhir bibir dower krn kebanyakan promosiiiii...

ada satu pengalaman dmn gue ama tmn gue, jualan kue buat organisasi yg skrg amit2 gue ga mau terlibat lg! hwee cukup tau aja lah ya. tp gue blajar byk dr situ. gue jualan kue di jakarta n ga abis, jd sampe gue bawa ke tangerang, ke perumahan dmn gue tinggal! Puji Tuhan, Bapa emang slalu baik... dagangan gue diborong ama tetangga,, n bsk ny gue tgl nyetor ke bos yg tampangny gue udh lupa tp yg pasti dia ga pernah tau "betapa capenya" angota2nyaa....

Huaa sejak itu,,, gue makin benci aje yg namanya "dana-mendanai" hahahaha. mending gue mendanai sebisa gue dr pd disuruh nyarinya. nah sejak itu, gue akhirnya bergabung lg ama organisasi yg skrg jd berkat buat gue. gue tau, di sini jg sama. gue musti cr dana, malah di sini gue yg jd bos ny huahua. berhubung gue tau gmn paitnya nyari dana, gue marah klo liat anggaran yg terlalu kegedean mnurut gue. gue marah, kalo udh gitu gue yg terkesan jinak jd bertaring.... grrrr!!

guee sadar betul,marah itu salah. marah itu menyakiti hati org. tp rasanya ga tahan kalo ga kluar ga smua unek2 ini,,, krn penderitaan pencarian dana di masa yg lalu begitu kejammm... (mulai lebay tp fakta)*

akhirnya gue memutuskan utk berdamai ama temen gue, berdamai ama kemarahan gue. gue mencoba mencari yg terbaik, dan sebenernya gue udh ga perlu mencari yg terbaik.... krn apa yg gue liat, itulah yg terbaik yg bisa dilakukan temen2 guee... (terharu)* tp apaaaa,, kendala blm mau pergi dr gue skrg ini,,, krn "apa yg terbaik" itu ga bs diwujudin krn danaaa... dananya kurang!

gue sadar lg, di sini gue hrs berperan lg. bukan mengambil peran lbh byk, tp berpikir.. merenung bagaimana menemukan "terbaik" lainnya... gue berpikirrrr.... hasilnya tetep sama. sampe gue menulis ini,, gue baru menemukan jawabannya hanya sejauh DOA. gue harus merendahkan hati lg, minta tolong ke Tuhan. gue mesti blg, kalo gue ini lemah. gue ga bs jd apa2 kalo Bapa ga ikt bekerja di setiap apa yg gue lakukan... apapun yg terbaik di mata gue, kalo bkn krn Bapa ikt bekerja dlm sgala sesuatu. semuanya sia2.... jd inget lagu "kesia-siaan belaka"

"sia-sia belaka, sia-sia belaka,
hidup tanpa Allah, oh tanpa cinta..."


"damainya ketika aku berdoa"












Minggu, 09 Januari 2011

Mengenai Sahabat yang Baik-Sigalovada Sutta

Hmm.. abis cariin artikel buat adik sepupu soal "Sigalovada Sutta" buat pelajaran agama Budha di sekolahnya. Awalnya ga ngerti tp stlh baca, isi pelajarannya bagus. Hehehe..

Sigalovada sutta ini berisikan percakapan Sang Buddha dengan seorang kepala keluarga yang masih muda bernama Sigala, di dialog ini jg ada beberapa pelajaran mengenai sahabat yang baik dan isi dari "Sigalavada Sutta" dapat diterapkan secara umum oleh siapa aja. ini kutipannya:

Ada empat jenis, duhai kepala keluarga yang muda belia, sahabat-sahabat yang harus dipandang sebagai sahabat berhati tulus:

1. Penolong;

2. Sahabat di waktu senang dan susah;

3. Sahabat yang memberi nasihat yang baik;

4. Sahabat yang simpati.


pertama kali misa pagi barengan di HTMB keluarga KEP 9-01-2011


Atas empat dasar sahabat, seorang penolong harus dipandang sebagai sahabat yang berhati tulus, yaitu:

1. Ia menjaga dirimu sewaktu kamu tidak siap;

2. Ia menjaga milikmu sewaktu engkau lengah;

3. Ia menjadi pelindungmu sewaktu engkau sedang ketakutan;

4. Jika engkau melakukan tugas, ia memberikan bekal dua kali lipat (dari yang kamu perlukan).

Atas empat dasar, sahabat di waktu senang dan susah harus dipandang sebagai sahabat yang berhati tulus, yaitu:

1. ia menceritakan rahasia-rahasia kepadamu;

2. ia tidak menceritakan rahasia itu kepada orang lain

3. didalam kesusahan ia tidak akan meninggalkanmu;

4. untuk membela dirimu, ia bersedia mengorbankan nyawanya.

Atas empat dasar, sahabat yang memberi nasihat apa yang harus engkau lakukan harus dipandang berhati tulus, yaitu:

1. ia mencegah engkau berbuat salah;

2. ia menganjurkan engkau berbuat yang benar

3. ia memberitahukan apa yang belum pernah engkau dengar

4. ia tunjukkan padamu jalan ke surga.

Atas empat dasar, sahabat yang bersimpati harus dipandang berhati tulus:

1. Ia tidak merasa senang atas kesusahanmu;

2. Ia merasa senang akan kejayaanmu;

3. Ia cegah orang lain bicara jelek tentang dirimu;

4. Ia sanjung setiap orang yang memuji dirimu.”

Demikian sabda Sang Bhagava.

Setelah Sang Bhagava bersabda demikian, kemudian Sang Bhagava bersabda pula:

“Sahabat yang menjadi kawan penolong, sahabat pada waktu senang dan susah, sahabat yang memberikan apa yang engkau butuhkan dan ia yang memiliki simpati untuk dirimu. Empat jenis sahabat ini adalah orang bijaksana yang harus dikenal sebagai sahabat dan kepada empat jenis sahabat ini, ia harus menyediakan dirinya bagaikan seorang ibu terhadap anak kandungnya sendiri.

  • Beberapa orang mengatakan sahabat baik. Akan tetapi, yang membuktikan dirinya sebagai kawanmu pada waktu bahaya, dialah yang benar-benar boleh dikatakan seorang sahabat.”


Sumber: http://chaoteklee.blog.friendster.com/2009/04/sigalovada-sutta/


Semoga bermanfaat :) Tuhan berkati.



suatu siang di Kebon Raya, Bogor. 4 Januari 2011